ESQ yang luar biasa

Waktu itu saya tiba-tiba diminta ikut training ESQ. Bos saya tidak bisa ikut, entah kenapa. Tentu saja saya menolak. Kalau Cuma training di sebuah hotel yang relatif dekat rumah, itu sama sekali tidak menarik. Lagipula, siapa sih yang yang butuh training pengembangan diri? Dari dulu juga sudah tahu. Buku semacam itu juga sudah banyak saya baca dan isinya “begitu-begitu” juga. Saya baru tertarik jika training – training apa saja – jika diadakan diluar kota. Jadi bisa sekalian mengajak keluarga berlibur (seperti yang biasa selama ini terjadi). Diperparah lagi waktu trainingnya adalah jumat, sabtu dan minggu. Apa tidak tahu, kalau hari minggu itu adalah waktu berkumpul dengan keluarga?
Begitulah, akhirnya saya dengan “rasa terpaksa” dan “pesimis luar biasa” datang ke tempat training dengan naik sepeda (hotelnya dekat rumah). Namanya “training ESQ Professional angkatan ke-2”. Di kota kabupaten yang boleh jadi anda belum dengar namanya.
Disana masih pagi, tapi saya lihat sudah begitu banyak mobil “pembesar” parkir dengan rapi. Saya tambah malas. Lalu mendaftar dan melihat sekilas ruangan besar yang sudah disulap menjadi berkarpet. “Lho, trainingnya duduk dilantai?”, saya makin tambah tidak suka. Satu-satunya yang menarik adalah kumpulan sound system dan layar lebar (lumayanlah, sekali-kali lihat bioskop yang nota bene tidak ada di kota sini. Apalagi memang dasarnya saya hobby nonton film). Dan training-pun dimulai…
Hari pertama tidak terlalu berkesan apa-apa. Kalau “Cuma” teori seperti itu, saya dari dulu sudah tahu.
Hari kedua, saya katakan ke teman saya (kami berenam dikirim dari kantor), “rasanya air mata ini habis sudah” dan kami kembali saling berpelukan.
Hari ketiga (hari terakhir) saat istirahat akhirnya saya berkata kepada teman saya lagi, “ternyata, air mata ini tak akan pernah ada habisnya. Sungguh luar biasa…”
Setiba di kantor pada senin pagi, saya sempatkan bertemu dengan orang yang “memaksa” saya pergi training. Saya katakan, “terima kasih sekali saya telah diikutkan traing yang luar biasa ini. Anda mesti ikut juga. Ini sungguh luar biasa.”. Tak cukup dengan itu, saya ajukan presentasi (biasanya saya tidak pernah melakukannya) yang dengan sengaja saya undang pihak HRD dan pejabat teras di kantor saya. Saya sampaikan betapa training ini bagus dan perlu.
Beberapa bulan kemudian diadakan lagi training angkatan ke-3. Semula saya bingung bagaimana cara agar istri saya bisa ikut. Anak saya masih 2 tahun dan pembantu di rumah hanya bekerja 6 jam sehari kemudian pulang. Tapi memang kemudahan akan ada dimanapun juga bila dikehendaki-Nya. Ketika saya ngobrol dengan sesama alumni, maka beliau bercerita bagaimana ia memboking kamar hotel untuk istrinya agar tiap istirahat bisa mampir sebentar agar bisa menyusui anaknya.
Saya tidak perlu booking hotel. Tapi alhamdulillah istri saya bisa ikut setelah pembantu setuju untuk selama 3 hari bekerja hingga istri saya pulang.
Begitulah. ESQ telah memberikan kesadaran penuh pada diri ini, bagaimana mensikapi hidup.
Memangnya apa itu ESQ?
Sejumlah orang yang pernah ikut, memberikan pendapatnya masing-masing. Yang belum ikut dan “sok tahu”, memberikan persepsinya masing-masing.
Saya sendiri sulit menjelaskan, karena khawatir nanti ada hal yang sifatnya royalti yang sebenarnya tidak boleh disebarluaskan tanpa ijin. Namun kepada teman-teman sekeliling, saya menyatakan seperti ini, “jika ingin merasakan bagaimana gunung meledak (ketika nabi Musa ingin melihat Tuhan), atau mendengar gemuruh neraka, maka ikutlah training ini”. Motonya juga “feel the experience” yang saya rasa sangat cocok.
Hikmah yang saya peroleh

Yang paling nyata adalah penyadaran diri saya sendiri. Kini saya makin menghormati Tuhan. Betapa senang ketika bisa menagis dalam shalat dan doa. Namun sekian lama berlalu, rasanya perlu charging kembali.
Berikut sedikit tips agar bisa khusyu’ :
• Saat wudhu, kenanglah sebuah ayat yang menyatakan (kira-kira) : “dari air kami menjadikan segala yang hidup” (mohon maaf saya lupa ayatnya). Dengan demikian kita bisa bersahabat dengan air wudhu kita
• Setelah wudhu, resapi arti doa-nya : Allahummaj ‘alni…dst (arti bebasnya kira-kira : “Ya Allah, semoga Kau terima taubatku, dan semoga Kau sucikan diriku, Semoga Kau masukkan diriku kedalam kelompok hamba yang sholihin”)
• Sebelum shalat, yakinkan : jika nanti kita menguap, pasti kita sedang tidak fokus, tidak khusyu’ dan tidak hormat kepada-Nya.
• Usahakan memahami setiap arti bacaan shalat. Perhatikan misalnya, ketika berdiri setelah ruku’ (sami Allahu liman hamidah : Tuhan mendengar hamba yang memuji-Nya). Adakah kita sedang memuji-Nya? (robbanaa walakal hamd…dst) itu semua memuji Tuhan. Maka pantaskah berdiri dengan hanya sebentar?
Lalu saat duduk diantara dua sujud (robbighfirlii, warhamnii…dst) cobalah memahami setiap patah (pertanyaan menarik : ini semua doa. Mengapa dimulai dengan “Robbighfirlii” :Ya Robbi ampuni daku dan diakhiri dengan “wa’fuannii” : Dan maafkan diriku. Apa beda ampun dan maaf). Dengan demikian, seyogyanya duduk diantara dua sujud disesuaikan jeda waktunya dengan apa yang dibaca.
Lalu ketika Tahiyat, perhatikan pengakuan bahwa segala milik Tuhan (attahiyaatul, mubaarokatsh sholawaatut thoyyibatullillaah). Penghormatan, berkah, kedigjayaan itu semua milik-Nya. Dan kalimat terakhir sebelum salam : “innaka hamiidum majiid”. Hamid dan majid, coba diresapi kedua arti tersebut.
• Ketika selesai shalat, ada bacaan : Allahumma antas salaam…dst. Bacalah perlahan dan resapi maknanya : Wahai Allah, Dikaulah salam.. dari-Mu lah salam dan kembali padamu salam. Maka kumohon dengan serendahnya, berkenan kiranya Dikau menghidupkan daku dalam salam, dan adakah berkenan Dikau mengijinkanku masuk kesurgamu, negeri daarus salaam…dst
• Jika kita shalat di masjid, entah siang atau malam, maka ketika melangkah keluar, cobalah melihat kelangit di atas lalu tanya pada hati sendiri, “wahai, adakah shalat yang barusan ini diterima ?”
ESQ yang saya ikuti, di”piloti” oleh “kapten” Legisan Sugimin. Sungguh luar biasa cara beliau membawakannya. Karena hemat saya, ini tidak hanya materi training tapi juga pembawa-nya merupakan faktor dominan.
Yang paling berkesan adalah ketika burung itu terbang tinggi diantara tebing dan ngarai, dengan iringan musik yang dipilih secara apik. Saya bisa bayangkan diri saya saat ini dengan kedua tangan melebar seperti sayap dan meliuk seperti burung itu, terbanglah jiwa ini…terbang.. menuju kemana? Adakah kita tahu, menuju kemana?
Maka terbangnya jiwa itu akan selalu saya coba resapi disetiap malam-malam sunyi sebelum tidur. Adakah jiwa ini merindukan-Nya?? Tapi mengapa diri ini terasa begitu jauh dari dekap-Nya? Megapa tak ada air mata lagi yang menetes dalam shalat dan doa? Ataukah hanya dalam ESQ yang 3 hari itu? Padahal itulah air yang mampu memadamkan api neraka.
Sumber
Kisah Seorang Gadis Menyaksikan Kehidupan Akhirat
aKisah luar biasa dan membuat orang Islam merinding!! Aslina, seorang gadis Bengkalis dua jam mati suri, diperlihatkan berbagai kejadian di akhirat. Semoga kita mengambil pelajaran untuk meningkatkan keimanan!
Adi Sutrisno,
Wartawan Riau Mandiri
Sempat dinyatakan meninggal dunia, Aslina alias Iin (23) ternyata mengalami mati suri selama dua jam dan koma dua hari dua malam. Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis Riau itu mengaku selama mati suri, ia diperlihatkan berbagai kejadian alam barzah dan akhirat, serta beberapa kejadian yang menyangkut amal dan perbuatan manusia selama di dunia. Di hadapan sekitar 50-an orang, terdiri dari pegawai honor tenaga kesehatan Bengkalis, warga masyarakat serta sejumlah wartawan, Aslina, Rabu (3/9)kemarin, di aula studio TV Sri Junjungan Televisi (SJTV) Bengkalis, mengisahkan kejadian ghaib yang dialaminya itu.
Menurut penuturan Iin yang didampingi pamannya, Rustam Effendi, sejak tiga tahun lalu ia menderita penyakit kelenjar gondok alias hiper teroid. Karena penyakitnya itu, Pada 25 Agustus silam, gadis ini ditemani Rustam Effendi berobat ke rumah sakit Mahkota Medical Center (MMC) Malaka. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dokter mengatakan operasi baru bisa dilakukan setelah tiga bulan, karena waktu itu tekanan darah tinggi. Namun pada Sabtu (26/8) tengah lama, kondisi anak sulung tiga bersaudara ini kritis, koma. Sang paman sempat memandunya membaca dua kalimat syahadat dan kalimat toyibah (Lailahailallah) sebanyak dua kali. Waktu ajal menjemput, tutur sang paman, Aslina sempat melafazkan kalimat toyibah dan syahadat. Secara perlahan-lahan gadis yang bekerja sebagai honorer di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Bengkalis ini tak bernafas.
Tepat pukul 02.00 waktu Malaysia, indikator monitor denyut jantung terlihat kosong atau berupa garis lurus. Tak pelak situasi ini membuat Rustam sedih, kemudian beberapa dokter MMC Malaka terlihat sibuk memeriksa dan mengecek kondisi Aslina. Waktu itu dia sempat menghubungi keluarganya di Bengkalis untuk memberitahu kondisi terakhir Aslina. Untungnya setelah dua jam ditangani dokter, monitor terlihat kembali bergerak yang menandakan denyut jantung gadis yatim ini berdenyut lagi. Untuk perawatan lebih lanjut, Aslina dimasukan ke ruang ICU dan baru dua hari dua malam kemudian ia dinyatakan melewati masa kritisnya.
Bertemu Sang Ayah
Menurut pengakuan Aslina, dia melihat ketika nyawanya dicabut oleh malaikat. Waktu itu, nyawanya dicabut dari kaki kanan oleh malaikat. “Rasanya sangat sakit, kulit seperti disayat, dibakar dengan minyak,” tuturnya. Setelah roh berpisah dengan jasad, dia menyaksikan orang-orang yang masih hidup dan jasadnya terbaring di tempat tidur. Kemudian dibawa dua malaikat menuju ke suatu tempat. Aslina mempunyai keinginan untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah lama meninggal, bernama Hasan Basri. “Wahai ayahku bisakah aku bertemu denganmu. Aku sangat rindu, oh ayah,” ucapnya. Memang di tempat itu Aslina bertemu dengan sosok pria muda berusia 17 tahun dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Melihat sosok pria muda tersebut, Aslina tetap ngotot ingin bertemu dengan sang ayah.
Kemudian, kedua malaikat memperkenalkan bahwa pria muda tersebut adalah ayahnya. Tentunya dia tidak menyangka karena waktu meninggal dunia, ayahnya berusia 55 tahun. Kemudian sang ayah bertanya kepada Aslina, maksud kedatangannya. Dia menjawab kedatangannya semata-mata memenuhi panggilan Allah SWT. Sang ayah menyuruh Aslina tetap pulang untuk menjaga adik-adiknya di dunia. Namun Aslina menjawab bahwa dirinya ke sini, memenuhi panggilan Allah. Waktu itu juga, dia menyebut rukun Islam satu persatu. Setelah berdialog dengan ayahnya, dua malaikat tadi membawa Aslina ke suatu tempat yang dipenuhi wanita memakai baju rapi dan berjilbab. Di situ, dia disalami dan dicium pipi kanan-kiri oleh wanita-wanita Muslimah tersebut. Tidak hanya itu, Aslina juga bertemu dengan 1.000 malaikat dengan wajah berseri dan seluruhnya sama.
Di tempat itu, Aslina duduk di kursi yang sangat empuk. Bila di dunia empuk kursi tersebut seakan dilapisi delapan busa. Ketika duduk, tiba-tiba sosok wanita berseri mirip dengan dirinya menghampiri. Dia bertanya kepada sosok wanita tersebut. “Saya adalah roh dan amal ibadah mu selama di dunia,” kata wanita tersebut. Kemudian Aslina ditemani amalnya (sosok wanita, red) dan dua malaikat menyaksikan beberapa kejadian di akhirat. Diantaranya, ada seorang pria berpakaian compang-camping, badannya bernanah dan bau busuk. Tangan dan kaki dirantai sementara di atasnya memikul besi seberat 500 ton. Melihat kejadian itu, Aslina bertanya kepada amalnya. Rupanya pria tersebut semasa hidupnya suka membunuh dan menyantet (teluh) orang.
Kejadian selanjutnya yang ia lihat, seorang yang disebat dengan rotan panjang sehingga kulit dan dagingnya mengelupas dari badan. Ternyata orang tersebut selama hidup tak pernah sholat bahkan menjelang ajal menjemput pun tak pernah menyebut syahadat. Aslina juga melihat, dua pria saling membunuh dengan kapak. Menurut keterangan amalnya, rupanya orang tersebut suka menodong dan memeras orang lain. Kemudian gambaran, seorang ustad yang dihantam dengan lahar panas yang mendidih. Kembali Aslina bertanya. Ustad tersebut selama hidup suka berzina dengan istri orang lain. Kejadian berikutnya, seorang ditusuk dengan pisau sebanyak 80 kali. Ini menunjukan orang tersebut suka membunuh dan tidak pernah dipertanggungjawabkan selama di dunia.
Kejadian terakhir, seorang ibu tua dihempaskan berkali-kali ke lantai. Di lantai tersebut terdapat pisau tegak dan dia tersungkur lalu mengenai tubuhnya, hingga mati. Gambaran tersebut menunjukan, selama hidupnya wanita tersebut merupakan anak durhaka, yang tidak mengakui ibunya yang pikun. Bahkan dia malu kepada orang lain.
Kisah tentang mati suri dan berbagai pengalaman ghaib yang dialami Aslina alias Iin (23), membuat heboh masyarakat Bengkalis, khususnya warga desa Pematang Duku, kecamatan Bengkalis, yang antara percaya dan tidak dengan cerita dalam mati suri itu. Berikut lanjutan kisah ‘perjalanan ghaib’ yang dituturkan Aslina Rabu silam di aula studio SJTV Bengkalis.
Menurut Aslina, setelah dirinya diperlihatkan dengan kejadian dan gambaran manusia, ia kemudian dibawa melewati malam yang sangat gelap gulita. Saking gelapnya, dia tidak bisa melihat amalnya dan dua malaikat yang mendampingi. Ketika kakinya berjalan tiga langkah, terdengar suara orang berzikir. Kemudian sang amal menyuruhnya untuk cepat menangkap suara tersebut. Tapi Aslina tidak bisa menangkap. Tiba-tiba waktu itu, lehernya dikalungi seutas rantai. Setelah dipegang ternyata rantai tersebut berupa tasbih sebanyak 99 butir.
Terdengar suara yang memerintahkan Aslina untuk berzikir selama dalam perjalanan. Dia berjalan lagi sepanjang tujuh langkah, namun waktunya sama dengan 10 jam waktu di dunia. Ketika sampai pada langkah ke tujuh, dia melihat wadah menyerupai tapak sirih berisi cahaya yang terpancar melalui lobang-lobangnya. Berkat cahaya tapak sirih tersebut, dia bisa melihat dan membaca tulisan Arab, berbunyi ‘Husnul Khotimah’. Di belakang tulisan itu terlihat gambar Ka’bah. Ketika melihat tulisan dan gambar Ka’bah seketika, dia dan amalnya tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah. Aslina mendekati cahaya itu dan mengambilnya, kemudian disapukan ke mukanya. Ketika malam yang gelap gulita itu menjadi terang benderang.
Nabi Muhammad SAW
Setelah berjalan sekian jauh, dia mendengarkan suara azan yang suaranya tidak seperti di Indonesia, namun bernada Mekkah. Kepada amalnya, dia meminta waktu untuk menunaikan sholat. Setelah mengerjakan sholat, roh Aslina hijrah ke tempat lain dengan perjalanan 40 hari.
Tempat yang dituju kali ini adalah Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itu dia menyaksikan makam Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya. Di makam Nabi ada pintu bercahaya, terlihat sosok Nabi Muhammad SAW sedang memberi makan fakir miskin. Tidak hanya itu di Masjid Nabawi, dia kembali diperlihatkan kejadian menakjubkan. Tiba-tiba cahaya ‘Husnul Hotimah’ yang ada di tangannya lepas, kemudian mengeluarkan api yang menerangi seluruh ruangan sehingga makam Nabi terlihat jelas. Waktu itu dari balik makam Nabi, dia melihat sosok manusia, berwajah ganteng menyerupai malaikat, kulit langsat, mata sayu, pandangan luas terbentang dan tajam. “Raut muka seperti orang Asia (oval, red) namun tidak kelihatan kepalanya. Tapi saya yakin sosok manusia tersebut adalah Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Melihat peristiwa itu, lantas Aslina bertanya kepada malaikat dan amalnya. “Kenapa cahaya tersebut menerangi Nabi Muhammad SAW, sehingga saya bisa melihat. Dan kenapa wajah Nabi bercahaya?” Dijawab bahwa Anda adalah orang yang mendapat syafaat dan hidayah dari Allah. Mengenai wajah nabi yang bercahaya, karena selama mengembangkan agama Islam selalu mendapat tantangan. Perjalanan tidak di situ saja, Aslina dan pengawalnya berbalik arah untuk pulang. Rupanya ketika dalam perjalanan pulang dia kembali menyaksikan, jutaan umat manusia sedang disiksa dan menderita di sebuah lapangan. Orang-orang tersebut meronta dan berdoa minta agar kiamat dipercepat. Karena sudah tak tahan lagi dengan siksaan. Mereka mengaku menyesal dan minta dihidupkan kembali agar bisa bertaubat. “Jarak Aslina dengan mereka hanya lima meter, namun tak bisa memberikan pertolongan,” ujarnya. Selama melihat kejadian itu, Aslina membaca Al Quran 30 juz, Hafis (hafal) dan khatam tiga kali. Kemudian membaca surat Yasin sebanyak 1000 kali dan shalawat kepada seluruh nabi (Adam sampai Muhammad). Aslina berlari sepanjang Arab Saudi atau sepanjang Sabang sampai Marauke seraya menangis melihat kejadian tersebut. Aslina juga ingin diperlihatkan apa yang terjadi pada dirinya dikemudian hari. Namun sebelumnya dia diminta oleh malaikat untuk berzikir. Lamanya zikir yang dilakukan Aslina selama dua abad dan dua pertukaran zaman. Hal ini ditandai dengan 1 Syawal yang jatuh pada tanggal 31 Desember. Selesai berzikir, Aslina mendengar suara yang seperti ditujukan kepadanya. “Sadarlah wahai umat-Ku, kau sudah Ku matikan. Sampaikan kepada umat-Ku, apa yang Ku perlihatkan. Sampaikan kepada umat-Ku, umat-Ku, Umat-ku.”
Kejadian Aneh
Usai pengambilan gambar dan wawancara, terdapat kejadian aneh di gedung SJTV Bengkalis. Saat itu, Aslina sudah keluar dari ruangan menuju gedung Radio Pemda yang berjarak 25 meter. Ketika krew SJTV hendak mematikan monitor, ternyata tak bisa dimatikan. Namun anehnya muncul sosok bayangan putih bertubuh tegap dengan rambut terurai hingga ke pusar dan kepalanya bertanduk. Tentunya hal ini membuat para krew dan orang-orang yang menyaksikan heran, lantas momen ini diabadikan pengunjung dan krew SJTV. Setelah Aslina keluar dari ruangan Radio Pemda, ditanyakan apakah sosok tersebut. Dia menjawab bahwa sosok tersebut merupakan jin.
Menutup pengalaman ghaib anak penakik getah itu, sang Paman Rustam Effendi kepada wartawan menyebutkan, selama ini Aslina merupakan sosok yang pendiam dan kurang percaya diri (PD). Namun setelah kejadian ini banyak hal-hal yang berubah, mulai dari penampilan hingga tingkah laku. Bahkan dari warna kulitnya saat ini lebih bersih dan berseri. Mengenai amalannya, “Selama ini dia memang rajin mengerjakan shalat tahajud dan membaca Al Quran setiap hari,” kata sang paman menutup kisah tersebut. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar